.

Genealogi Hadis Politis AL MUAWIYAT


🌹🌸💐💐🌸🌹

*MENIMBANG KLAIM SEMUA SAHABAT ADIL*

_*Oleh #Ahmad Tsauri, Abdi dalamnya Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya*_ 

*Jarang sekali saya menemui buku yang begitu saya pegang memicu adrenalin, tak ingin berhenti memyusuri halaman demi halamannya sampai akhir. Salah satunya buku, "Genealogi Hadis Politis al Muawiyat"*.

*Misi penulisnya ingin meruntuhkan postulat terkenal dalam ilmu hadis Sunni" كل صحابي عدول" , semua sahabat adil (dapat diterima periwayatannya).*

*Saya sebutkan Sunni, karena Syi'ah memberikan banyak pengecualian, mereka hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait Nabi, dan Sahabat yang terang-terangan Pro Imam Ali, seperti Abu Dzar, Kumail dll. Sementara Abu Hurairah, Sayidah Aisyah, Abu Bakar, Umar dll mereka tolak mentah-mentah.*

*Kaidah "Seluruh sahabat Adil" sangat mengakar dikalangan Sunni. Implikasi terhadap periwayatan hadis, implikasi terhadap fikih, implikasi terhadap sejarah dan implikasinya terhadap teologi sangat besar. Oleh karena itu kaidah itu ditopang oleh banyak kaidah lain, misalnya Ibn Ruslan menulis:*

*وما جرى بين صحابي نسكت * عنه و اجر الاجتهاد نثبت*
*"Atas perselisihan yang terjadi dikalangan* *sahabat kita memilih diam tidak berkomentar*

*Dan kita meyakini semua sahabat mendapat pahala ijtihad atas semua perbuatannya".*

*Buku ini hendak meruntuhkan pohon besar keyakinan Sunni tentang keadilan sahabat sampai akar-akarnya. Sebagai produk akademik yang dipublikasi, khususnya bagi kalangan tradisional seperti NU, "proyek" penulis ini dahsyat sekali, menghentak nurani yang telah lama bergenerasi disirami dogma teologis.*

*Akan tetapi dalam ruang-ruang tertutup ada juga tokoh besar NU yang saya tahu menolak klaim semua sahabat Nabi adil itu, dan salah satu alasan penolakan itu adalah sikap Muawiyah, keluarganya dan patron politiknya yang membabat habis Ali dan Syi'isme Ali, pendukung Ali. Mungkin ada juga tokoh NU lain.*

*Ada sebuah buku yang secara tidak langsung mengkritik anggapan keadilan sahabat Nabi, buku _Ghâyatu-Ttabjîl_, buku itu diberi pengantar oleh Habib Umar bin Hafidz dan Habib Abu Bakat Adniy.*

*Banyak hal yang disampaikan dalam buku itu. Diantaranya, pertama: kekejaman Muawiyah dan pendukungnya yang memaksa imam Ali mengekseksui 25000 demonstran yang berakhir terhadap pembunuhan Ustman. Imam Ali menolak, Muawiyah memaksa*. 

*Kedua: Muawiyah dan Muawiyah menghabisi warisan intelektual Imam Ali. Diantara sahabat besar Nabi, imam Ali hidup 30 tahun setelah Nabi wafat, Abu Bakar 2 tahun setelah Nabi wafat, Umar 4.5 tahun, utsman 16.5 tahun.* 

*Anehnya kata penulis buku _Ghâyatu-Ttabjîl_, kenapa warisan intelektual Ali sama sekali hilang, padahal Ali menjadi Hakim semenjak kekhalifahan Abi Bakar, Umar bahkan Utsman. Kemana rimbanya riwayat, fatwa, dan tafsir Imam Ali. Kenapa ada fikih Umar yang hidup 4.5 tahun setelah Nabi wafat, sementara tidak ada fikih Ali, dan tafsir Ali, padahal Imam Ali baru wafat 30 tahun setelah Nabi saw? Kira-kira seperti itu.*

*Logika yang dibangun, semakin panjang usia seorang sahabat setelah Nabi wafat semakin banyak sahabat muda dan tabiin yang berguru kepadanya, semakin banyak riwayat yang disebarkan murid-muridnya.*

*Dan tentu semua riwayat itu mengafirmasi nama Ali, Ali, Ali, sebagaimana periwayat sahabat dan Tabi'in mengafirmasi Abu Hurairah dan Aisyah. Kenapa ada Aisyah, dan Abu Hurairah sementara Imam Ali tidak, padahal Imam Ali termasuk _min a'lamish-shahabah_: sahabat paling genius dan cerdas bahkan Nabi menyebutnya pintu kota ilmu. Dan kota ilmunya adalah Nabi sendiri.*

*Ketiga: Muawiyah dan penguasa (Bani) Umayyah setelahnya mengecam dan melaknat Ali lebih dari 30 tahun pada khutbah jum'at dan mimbar pengajian diseluruh kota, sampai khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi penguasa Umayyah.*

*Keempat: nyaris tidak dijumpai hadis shaheh mengenai keutamaan Ali dan keluarga Nabi. Semuanya diberangus habis oleh penguasa.*

*Tiga point terakhir itu juga yang dielaborasi secara apik dalam buku yang sedang saya baca ini, "Genealogi Hadis Politis Al Muawiyat".*  

*Buku ini juga memberi pemahaman ilmu pengetahuan dan pusat akademik di setiap jaman dipengeruhi ideologi penguasa. Ilmu pengetahuan tidak sepenuhnya mewakili semangat jamannya.*

*Sebagai karya akademik, yang menyajikan data Sunni maupun Syi'ah secara berimbang, saya dan seharusnya kita semua memyambutnya dengan gembira.* 

*Hemat saya, penulisan seperti ini termasuk dalam tajdid pemikiran Islam, revisionisme Islam sebenarnya. Bukan mengutak ngatik sesuatu yang telah menjadi ijma' ulama, seperti validitas al-Qura'n, historisitas Nabi saw dll.* 

*Yang membuat saya kaget penulis buku ini sangat narsis. Saya tidak ada apa-apanya dibanding "keangkuhan" akademik penulis buku ini. Misalnya dalam banyak kalimat dia mengkritik Prof Masykuri, sebagai orang yang tidak kompeten, sambil menyebut dirinya cerdas. Kalau kita membaca buku-buku ulama kuno, seperti _Assuyûthi_, narsisme seperti itu sangat wajar.*

*Saya jadi terkenang pengalaman sendiri, saya baru 1 kali mengatakan dalam sebuah diskusi dengan dosen: "materi ini sudah selesai dalam perdebatan ulama tidak ada yang baru", sekali itu saja jadi dosa abadi yang diingat 8 tahun dan dipakai untuk menghakimi saya ketika saya salah dan membutuhkan syafa'at. Sikap saya seperti itu dijadikan dasar untuk menganggap saya sombong, tidak nJawani.*

*Saya berpikir bagaiamana kalau saya melakukan "pengkerdilan" kepada dosen saya seperti yang dilakukan Dr. Muhammad Babul Ulum mengkritik Direktur Pascasarjana UIN Jakarta yang bernama Prof Masykuri itu. Saya hanya bisa mengandai-ngandai.*

*Sangat senang sekali ternyata ada orang Pekalongan, asli Buaran, Dr. Muhammad Babul Ulum, yang menulis buku serius seperti ini.*

*#Copas*

_*Maaf, bagi yang minat dengan buku tersebut bisa hub no ini:*_
Telp / WA: 085324521168
Harga Rp 85.000

Produk Kami Lainnya :